Blog EntryAroma Koffie FabriekMar 8, '05 11:45 AM
for everyone
Beberapa waktu lalu saya ke Bandung untuk menghadiri acara
peluncuran buku 'Sosialisme di Kuba, Idealisme Setengah Hati?'
karangan Kang Bondet.

Karena acara peluncuran tersebut dimulai sekitar jam 15.30,
maka saya mencari kesibukan lain untuk mengisi waktu dari pagi
hingga sore hari. Pagi-pagi saya telepon Pak Widya, pemilik
pabrik dan toko kopi Aroma yang terkenal itu, beliau memper-
silahkan saya datang untuk mengobrol dan melakukan pemotretan
disana. Wah, saya sangat senang mendengarnya, lalu meluncurlah
saya ke Jl. Banceuy. Dasar memang sedang tidak ada kerjaan, ah
saya memutuskan untuk berjalan kaki, sekalian menikmati keinda-
han kota, pikir saya. Bermodalkan sandal jepit, karena ternyata
sandal gunung saya sobek, saya memulai perjalanan.

Memasuki daerah Jl. Banceuy, saya masih menikmati udara pagi
dan lengangnya kota. Saya baru sadar, kok trotoar kita parah
sekali ya? kadang-kadang ketemu lubang, area yang sudah berupa
gundukan tanah, bukan semen atau conblock, sangat tidak menun-
jang kenyamanan pejalan kaki. Ah, biarlah. Toh saya masih bisa
menikmati perjalanan saya, saya berkata dalam hati.

Setelah jalan-jalan yang sama sekali tidak membuat lelah ini,
saya memasuki toko kopi Aroma dan langsung disambut oleh Pak
Widya, eh ternyata beliau sedang diwawancara oleh 2 orang yang
mengaku bekerja di RASE FM Bandung, salah satu stasiun radio di
Bandung yang cukup terkenal di kalangan anak muda Bandung.

Karena beliau sibuk, akhirnya anak sulungnya yang bernama Monika
ditugaskan oleh Pak Widya untuk mengantar saya berkeliling dan
mencari obyek yang pas untuk fotografer amatir ini. Wah, ternya-
ta memang hoki, Monika ternyata senang fotografi juga, jadi dia
sudah sangat mengenal dudut-sudut mana yang strategis untuk me-
lakukan pemotretan. Wah, kalau sudah begini, nggak boleh bikin
foto yang jelek nih, pikir saya.

Saya akhirnya mengambil beberapa gambar yang rasanya cukup un-
tuk gambaran tentang alat-alat dan gudang penyimpanan untuk ma-
sa yang cukup lama. Sayangnya saya ternyata datang pada waktu
yang salah, kata Monika. Seharusnya saya datang lebih pagi, se-
kitar jam 4, untuk mengamati dan mengambil gambar proses coffee
roasting. Kalau saya pintar fotografi pasti hasilnya bagus, Mo-
nika berkata. Wah, salah orang! Saya masih sangat-sangat pemula
dalam bidang fotografi, jangan membayangkan terlalu banyak, sa-
ya jawab. Tapi sebenarnya, saya malahan jadi ingin melihat dan
kalau boleh sekalian merekam proses coffee roasting tersebut ke
dalam lembaran foto. Pasti nanti saya sanggupi ajakan Monika,
janji!

Gudang yang besar berisikan karung-karung dengan bahan goni me-
menuhi ruangan penyimpanan. Semua karung memiliki label-label
dengan kode yang hanya bisa dimengerti oleh Pak Widya dan Moni-
ka. Ternyata Monika juga sudah 'berilmu tinggi' dalam hal per-
kopian, walau masih sangat jauh berbeda dengan sang ayah, aku-
nya. Ia bercerita sudah belajar banyak tapi sedikit menyerap
ilmu perkopian dari ayahnya. Yah, gimana saya yang ilmunya ma-
suk kategori pas-pasan?

Akhirnya setelah jepret sana jepret sini, saya akhirnya masuk
kembali ke ruangan toko dan mendapati Pak Widya sudah tidak si-
buk lagi, akhirnya kita ngobrol dan sesekali saya memotret di
dalam ruangan toko ketika Pak Widya melayani pembeli, yang ma-
na jumlahnya sangat sedikit pada hari Minggu itu - tentu saja
apabila dibandingkan dengan hari biasa yang supersibuk. Beliau
selalu memberikan gambaran lengkap tentang kopi yang mereka se-
diakan, apa bedanya ini dan itu, keistimewaan kopi yang mereka
sediakan, dan sebagainya kepada konsumen yang datang. Tidak ja-
rang konsumen diajak masuk area gudang dan pengolahan kopi,
yang terletak tepat di belakang toko. Mereka diminta untuk ikut
membedakan kopi muda dan tua, mengamati alat-alat yang diguna-
kan pada proses pengolahan, dan melihat gudang penyimpanan.

Setelah selesai melayani penjual, maka Obrolan pun berlanjut.
Beliau bercerita tentang sejarah usaha keluarganya ini, dan
menarik kalau diperhatikan mereka masih menggunakan beberapa
alat kuno yang masih berguna, dari roaster sampai timbal yang
berumur sekitar 70 tahun. Uniknya, timbal ini selalu lolos uji
setiap tahun, anda dapat melihat dalam foto, begitu banyak cap
yang menunjukkan bahwa timbal ini memang lolos uji.

Anda juga dapat melihat perbedaan warna kopi, dari baru dipetik
hingga berumur 8 tahun disini. Sangat menarik untuk mengetahui
bahwa kopi ternyata bertambah lembut dan mengeluarkan aromanya
di hari senjanya. Seiring dengan bertambahnya wangi yang khas,
biji kopi juga mulai kehilangan kadar kafeinnya. Umur yang la-
yak untuk memulai proses adalah 8 tahun untuk Arabika dan 2
atau maksimal 5 tahun untuk Robusta. Oh ya, untuk Arabika, Pak
Widya punya resep khusus saat roasting, dia mencampur biji kopi
berusia 8 tahun dan usia 32 tahun dengan perbandingan 99%:1%.
Wow, kopi yang dia goreng tadi pagi, yang telah saya minum, dan
yang semua Arabika yang dijual mengandung 1% biji kopi yang u-
murnya melebihi umur saya!

Ada juga proses pengolahan kopi yang disebut WIB (West Indische
Brende). Maaf, saya tidak bisa berbahasa Belanda, jadi saya ti-
dak mengerti apa artinya. Menurut Pak Widya, WIB ini adalah su-
atu proses pengolahan yang sekarang menjadi salah kaprah dan
digolongkan menjadi salah satu jenis kopi, padahal WIB itu se-
benarnya hanyalah Robusta yang dicuci untuk menghilangkan la-
pisan kulit ari biji kopi tersebut. Proses ini mengurangi ka-
dar kafein dan sekaligus juga mengurangi rasa.

Kemudian beliau menceritakan asal biji kopi yang sekarang dio-
lahnya. Untuk Arabika, Aroma memiliki sumber di Aceh, Medan,
Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Timor Timur. Sedangkan un-
tuk jenis Robusta, beliau memiliki sumber yang berasal dari da-
erah Bengkulu, Lampung, dan Jawa Tengah. Untuk menjaga suplai
dan tingkat harga, beberapa kali Pak Widya harus turun langsung
ke daerah-daerah yang saya sebutkan diatas, untuk melakukan kon-
rol kualitas dan harga dari para petani. Itulah sebabnya mengapa
harga kopi disini sangat murah, tentunya apabila kita memperhi-
tungkan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kopi bubuk yang
bisa dikonsumsi dengan kualitas terbaik.

Masing-masing kopi memiliki aroma dan rasa yang khas, tapi ju-
jur, untuk Arabika, saya hanya menemukan sedikit sekali perbe-
daan pada rasanya. Ternyata menurut Pak Widya, memang Arabika
yang tua (8 tahun) rasa, depth, dan aromanya mengarah ke satu
titik. Perbedaan yang nyata akan terasa pada saat biji masih
berusia muda.

Akhirnya obrolan kami harus berakhir karena pak Widya harus me-
meriksa hasil ujian anak didiknya di Unpad. Oh ya, saya lupa
memberi tahu anda, pak Widya adalah seorang dosen mata kuliah
Nutrition Management di Unpad, dan konon beliau cukup keras da-
lam hal pelaksanaan peraturan, tetapi sangat murah hati dalam
hal pemberian ilmu dan pengetahuan kepada siswanya.

Ucapan terima kasih yang luar biasa besar saya berikan kepada
Pak Widya dan Monika, yang telah berbaik hati memperbolehkan
saya untuk menjelajah, memotret, eh malah sekalian diberi pe-
ngetahuan tentang dunia perkopian.

Marchel


ahartono72 wrote on Jan 12
widih emang keren yah kopi aroma, mana rasanya nikmeeeeeeet lagi ......
heuehueh....met kenal semoga sesama penikmat kopi aroma
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help