Beberapa hari ini ada banyak perbincangan hangat (pastinya) di sekitaran event JavaJazz tentang foto panggung. Selain berawal dari makin populernya dunia fotografi di masyarakat umum, ternyata gelaran festival musik yang digelar di JCC ini mengadakan perlombaan foto. Teman saya yang manggung pun tidak mau kalah dengan membawa kamera digital SLR-nya untuk hunting foto (nah, waspadalah hai para fotografer! lahan Anda kian terancam).
Di WC area Assembly Hall pun saya dengan mudah 'menguping' pembicaraan orang di sebelah saya, "wah, foto gue jelek-jelek, blur semua, ga pake lensa cepet nih." Lalu kemudian dijawab oleh teman di sebelahnya, "ntar gantian aja pake lensa gua, kan gua ada 200mm." (mungkin maksudnya lensa 200mm f/2.8-nya Canon). Ada juga pembicaraan seperti ini, "wah, motret di panggung 'x' keren banget lightingnya, mantep banget foto-foto gue." Atau, "foto-foto lu keren banget warnanya, ajarin gue dong."
Asyik juga sebenarnya, mendengarkan diskusi semacam itu. Bahkan di salah satu mailing list bertema fotografi dimana saya menjadi salah satu membernya, tengah membahas foto-foto penuh kilau karya Oom Gondrong yang bisa dilihat disini. Disamping melihat hasil foto yang apik, ada baiknya juga kita melihat elemen-elemen apa saja yang biasanya terlibat di dalam proses motret di panggung.
1. Kamera.
Tentu penting memiliki sebuah kamera, soalnya kalo minjem kan susah, hehehe. Hal yang paling dekat dengan kata fotografi mungkin adalah cahaya, dan umumnya pada saat pementasan acara di panggung, fotografer akan menghadapi cahaya yang tidak begitu melimpah alias gelap. Dewasa ini tentu tidak sulit mendapatkan kamera digital dengan hasil yang cukup baik di ISO tinggi (800 keatas). Berbeda nasilbnya dengan pemilik SLR non digital, yang makin sulit mencari film atau slide dengan ISO tinggi. Dalam keadaan seperti itu, kecepatan auto focus dan ketepatan sistem masing-masing kamera juga harus dapat diandalkan. Ah, tapi juga tidak diharamkan untuk menggunakan mode manual focus. Ada kalanya teknologi auto focus dapat dibantu dengan gerakan jari secara manual.
Pernah ada seorang teman yang berbagi tentang pengalamannya memotret sebuah fashion show dengan manual focus mode. Bukan karena ia sok jago, tetapi kebetulan sistem auto focus kameranya tidak memadai untuk lighting saat itu. Fokus tidak didapat dengan mudah, sementara waktu tetap berlalu dan baju-baju pun silih berganti. Akhirnya buka mata lebar-lebar, memutar focusing ring dengan ritme yang tepat, hasilnya malah lebih cepat ketimbang harus mengandalkan sistem auto focus dari kameranya. Setelah pengalaman tersebut, ia selalu menggunakan kombinasi 2 mode tersebut. "Mesin memang pintar, tetapi sense dari seorang manusia tidak bisa digantikan," tambahnya.
2. Lensa.
Benda yang satu ini sama sekali tidak mutlak harus begini atau begitu. Tetapi kalau boleh memberikan saran, bawalah lensa tercepat yang Anda miliki. Cepat disini maksudnya tentu adalah lensa dengan bukaan maksimal lebih dari f/4. Lensa dengan bukaan f/2.8 biasanya jadi pilihan yang cukup populer. Panjang? hmm ... Feri Latief pernah 'terpaksa' memotret dengan lensa 300mm :) dan saya di gelaran festival musik yang baru saja berlangsung ini malah banyak menggunakan 50mm saja :) (iyaaaaaa .. lensa gua kaga ke mak Erot!). Kadangkala panjang lensa adalah keterbatasan, maka Anda harus dapat 'membalasnya' dengan waktu Anda untuk mencari posisi yang tepat - sesuai dengan hasil apa yang Anda konsepkan tentunya. Kreasi itu tidak terbatas toh?
Selain pengaruh pada kecepatan shutter, lensa juga membawa pengaruh yang cukup besar pada proses pencarian fokus, baik dalam mode auto maupun manual. Makin besar diameter lensa, makin banyak cahaya yang masuk, dan makin mudah bagi mata kita maupun kamera untuk menentukan titik atau bagian mana yang akan kita jadikan titik patokan untuk fokus. Jaman sekarang pun, ada beberapa model motor pada lensa yang juga menentukan kecepatan fokus. Sampai sekarang, pengalaman saya berkata sistem magnetic ring (AF-S pada Nikon, Ultrasonic pada Canon, HSM pada Sigma, dst) adalah yang terbaik. Anda dapat melakukan kedua jurus fokus seperti pada poin pertama tadi dengan bersamaan, no need to switch the focus mode button.
3. Flashlight.
A BIG NO! Sebaiknya jangan gunakan lampu Anda, walaupun tampak kecil. Tentunya Anda tidak mau sebagian besar penonton dan artis melotot pada Anda, ketika mereka - atau salah satu dari mereka, gitaris misalnya - merasa terganggu dengan lampu kilat yang menyala dari kamera Anda. Jadi, pandai-pandailah memilih tempat memotret dan mempelajari gaya lighting panggung tersebut. Andaikata Anda memiliki free pass atau all access card, jangan ragu untuk menghadiri gladi resik dan bertanya pada mereka yang bertanggung jawab pada hal yang satu ini.
4. Monopod.
Betul, monopod jauh lebih berguna ketimbang tripod. Kepraktisan dan kecepatan adalah jawabannya. Pilih yang bisa menahan beban berat dan mudah untuk dibongkar maupun dipasang. Quick release adalah suatu keharusan, dan asisten adalah opsional :D.
5. Anda Sendiri.
Tidak perlu keterangan lebih lanjut bukan? :D. Quoting some words, it's the man behind the gun, not just the gun. Toh seberapapun mahalnya alat Anda, dia tidak dapat mengabadikan sebuah momen dengan sendirinya. It's you who press the shutter button, not the computer, nor the object(s). So, dengan alat yang Anda punya, yang harus dilakukan hanyalah memaksimalkan kreasi dengan mengelola keterbatasan yang Anda hadapi.
6. Lighting Panggung.
Percayalah, sesiap apapun Anda dan peralatan yang Anda miliki, tetapi poin yang satu ini bobrok, pasrah saja lah pada keadaan, walaupun alat Anda adalah Nikon D3, set on ISO 25,600. Level cahaya mungkin bisa dikejar, tetapi apiknya variasi cahaya panggung tentunya cerita yang berneda. Bila teman Anda bisa mendapatkan foto yang lighting panggungnya cantik dari stage sebelah, berbahagialah dia. Pada kondisi seperti ini, ada baiknya apabila kita menganggap bahwa ini adalah waktu untuk menikmati pertunjukan dengan posisi bukan sebagai fotografer :)
contoh panggung yang lightingnya apik:

dan ini yang agak kedodoran:

Percayalah, kadang kenangan yang kita alami langsung dan kita nikmati sendiri adalah yang terbaik :)
*jadi terkenang sama permainan Idang, Oele, dan Yance di Black Cat, dimana tidak seorangpun dari kami yang membawa kamera*