Akhirnya saya bisa punya kesempatan nulis juga
Minggu lalu, event di bagian kalender yg bisa dilihat
disini
terlaksana juga. Pertama yg datang adalah Lorentia, Khristy, Grace,
Harry, dan Yohan. Di pasar modern BSD kita sarapan Bakmie Siantar,
Bakmie Kepiting dan Nasi Campur A Yau, yang sebelumnya diawali dengan
nyemil Serabi Notosuman

.
Di sesi pertama ini, pemenang rasa adalah Serabi karena creamy dan
milky, sedangkan pemenang porsi adalah Nasi Campur. Serabinya memang
paling sip kalau dinikmati selagi panas, so datanglah langsung kesana.
Dari situ kita meluncur ke Gading Serpong, parkir di kantor Summarecon,
kita langsung menuju ke sebuah ruko disana, menikmati Nasi Liwet Solo
dan Timlo Solo. Disini bergabung lagi Vieldhie, Antonov dan adiknya,
juga si penggagas acara,
Jeng Hanny Santoso.
Timlo Solonya menyegarkan, ringan, dan cocok banget buat sarapan. Nasi
liwetnya sendiri termasuk dalam kategori cukup baik, tapi enggak ada
surprise di situ.
Nah, dari situ kita meluncur ke pasar modern Gading Serpong, cari nasi
pindang di sela-sela pasar yang sudah mulai sepi. Sebelum masuk ke blok
yang dituju, pandangan mata saya terlempar ke pojok jauh sana yang
bertuliskan Celebes Coffee. Sebagai penggemar kopi, tentu saja langkah
kaki saya menyambut tawaran penglihatan mata tadi.
3 kopi yang saya coba ternyata tidak semuanya mengejutkan. Akhirnya
kita beranjak setelah melakukan coffee tasting kecil-kecilan disitu.
Sepiring nasi pindang yang dialasi daun pisang dan ditemani dengan
perkedel pun datang dan menghampiri mulut yang masih lahap ini. Rasa
sejatinya agak-agak hilang, malah mengesankan seperti nasi rawon yang
powerless, tapi makanannya sendiri sih ok banget. Karena tidak otentik
bukan berarti tidak bisa diterima oleh lidah kita bukan?
Rumah makan khas makanan Palembang yang terletak di seberang kompleks
langsung kita jelajahi setelah menu sebelumnya habis. Es Kacang Merah,
Ketan dengan Saus Duren, Burgo, Kue Srikaya, dan Pempek. Pemenangnya Es
Kacang Merah, karena sisanya kurang otentik - diselaraskan dengan lidah
orang Jakarta! Bahkan Burgo rasanya jadi kayak Kari Ayam, hehehehe.
Beranjak dari situ kita mencicipi mie Titee .. basically not
recommended, tapi sosis daging babi home made dengan kuah kecapnya
boleh dicoba. Mirip sekali dengan masakan mami saya di rumah. Dibuat
dari usus halus babi yang kemudian di-stuff dengan daging babi dengan
bumbu lada, garam, bawang putih, dan dicincang.
Setelah berputar balk, kita menuju ke arah BSD dan menghampiri soto
betawi cabang dari Asemka, Kota. Soto Betawinya tampak berbeda, dengan
tone orange dan wangi cabe, sepertinya akan cukup pedas, saya pikir.
Satu varian menu yang sangat menarik adalah oseng. Daging soto
dipisahkan dan ditumis dahulu dengan bawang merah, bawang putih, dan
cabe rawit potong. Kemudian si tumisan ini dihidangkan dengan kuah soto
yang light dan segar.
Kami berpisah sebentar untuk rehat .. saya mencari secangkir kopi atau
teh untuk dinikmati sore-sore. Ternyata sebelum sempat menyeruput kopi,
sudah ada panggilan dari jeng Hanny untuk terus ke porsi yang
selanjutnya. Bubur ayam Benteng! Ini yang kita tunggu-tunggu

.
Daging ayam mentah yang sudah dicincang dibentuk kembali dalam
lembaran2 tipis dan diletakkan di atas bubur panas yang plain. Sesaat
setelah itu, kemudian bubur diaduk-aduk sampai rata dan daging ayamnya
matang di dalam bubur! Kemudian di mangkuk disiapkan potongan daun
selada, minyak bawang, dan tong cai. Setelah dicampur, ditaburi bawang
goreng kentang khas Tangerang ... rasanya ... huhuy. Cobain deh sendiri!
Belum beres makan, jeng Hanny cerita soal sate babi yang maut ..
setelah ceritanya beres dan meyakinkan kita untuk mencoba, telepon
diangkat dan
*Voila!* tukang
sate babi datang dalam hitungan menit dengan sepeda motornya. Sate babi
manis dengan pilihan daging, usus, hati, dan kulit hadir di depan kita.
Dibakar di tempat, langsung hadir di meja makan secepat kilat pula.
Teksturnya luar biasa .. terbaik! Pecenongan lewat jauh!
Pulang dari lokasi tersebut, kita menuju ke WTC untuk melihat dan
mencoba jajanan jawa di dalam mall. Depot HTS, dan jeng Hanny memesan
Ote-ote, tahu petis, onde-onde, dan wedang ronde. Overall, makanan yang
mereka sajikan bisa mengobati rasa kangen akan ote-ote porong yang
yahud itu, walaupun memang jauh dari sama.
Pulang dengan tangan hampa (lha ga bawa apa2) dan perut penuh (lihat
aja berapa menu diatas!), memendam perasaan bahwa masih belum semua
bisa dieksplor, dan kita tunggu timbangan di rumah bergerak berlawanan
dengan arah jarum jam dahulu, baru kemudian kita bikin lagi acara
serupa.
PS:
- Foto-foto sementara bisa dilihat di albumnya Vieldhie, klik langsung
disini
- Foto-foto saya belum diconvert sama sekali .. but i will post it ASAP.
PSnya PS:
- Jeng Hanny itu cowok, hati-hati tertipu
- Perut para peserta tidak sebesar yang anda bayangkan
- Anak2 Id-Photo ga ada lagi yg gabung, pada kemanaaaa woooii
- Makan terlalu banyak akan berbahaya bagi kantong. Bila nafsu berlanjut, hubungi saya.
Foto-foto versi saya bisa dilihat
disini .. ENJOY!