1 minggu telah berlalu sejak Jogja dihantam gempa di pagi hari. Banyak
bantuan dari masyarakat, pemda, LSM, hingga partai politik mengalir
kesana - yang kemudian diikuti dengan maraknya wisata bencana.
Wisatawan bencana datang dalam berbagai rupa, dari rombongan dengan bus
ber-AC, konvoi sepeda motor/mobil, hingga privateer. Tanpa sadar,
wisatawan bencana yang semakin banyak ini ada akhirnya mengganggu
kelancaran lalu lintas, menghambat bantuan, dan kemudian lebih jauh
dikhawatirkan akan membuat masyarakat yang terkena bencana akan
mengambil sikap apatis, karena mereka hanya menjadi bahan tontonan.
Para wisatawan ini kebanyakan berpikir dengan sejumput bantuan, mereka
akan leluasa bergerak, diterima, dan berhak atas jalan-jalan di tempat
terjadinya bencana.
Beberapa hari terkahir ini diperparah dengan munculnya pencuri/perampok
yang menyamar. Contohnya, dengan membawa mobil box, mereka membawa
beberapa dus mie instan. Rupanya ada beberapa orang yang sudah
ditugaskan untuk mencari 'sasaran' disana, karena setelah isi mobil
kosong, mobil tersebut digunakan untuk mengangkut barang-barang curian,
dari sepeda motor hingga barang-barang yang diduga berharga.
Karena keadaan seperti ini, banyak relawan yang akan mengalami
kesulitan untuk memberikan bantuan. Konon di Aceh dulu, para wisatawan
inilah yang menyebabkan kesulitan relawan-relawan untuk bekerja, bahkan
diantara mereka ada yang - maaf - memancing tangis dan emosi para
korban, supaya bisa jadi foto bagus atau jadi sesuatu yang bisa dijual,
dipamerkan, dan sebagainya. *sigh*
Foto-foto bisa dilihat disini