ReviewReviewReviewReviewLi YenMar 8, '05 11:34 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Chinese
Location:Asemka, Jakarta
Makan siang di Li Yen, Jakarta

Bermula dari membaca tulisan tentang Li Yen resto
yang direkomendasikan oleh seseorang di milis JS
(maaf saya lupa siapa). Konon ayam garamnya
sangat patut untuk dicoba. Seiring dengan wak-
tu, saya lupa untuk mencobanya, padahal minggu
lalu sempat lewat Asemka.

Beberapa hari lalu kebetulan saya dapat teman
untuk 'berburu babi' di Glodok. Tadinya saya
ingin mengitari daerah Gloria dan sekitarnya
untuk cari makhluk yang satu ini. Begitu Pak
Bondan mengusulkan satu resto di Asemka, se-
pertinya kok pernah dengar. Beliau pun sempat
diajak oleh Pak William Wongso untuk mencici-
pi masakan di resto ini, sayang belum ada wak-
tu yang pas untuk kedua sesepuh kuliner ini.

Maka terjadilah, kami berdua menuju Jl. Asem-
ka untuk mencari resto ini, masuk jalan ter-
sebut kita ambil jalur yang paling kiri untuk
memutar, saya sebenarnya sempat melihat resto
ini, tadinya saya kira sebuah kelenteng, eh
setelah melihat tulisan Li Yen diatasnya, sa-
ya kaget, ternyata itu toh restonya.

Sampai di dalam saya masih belum sadar bahwa
ini adalah resto yang direkomendasikan olah
salah seorang rekan di Jalansutra. Setelah
Pak Bondan bertanya kepada pelayan tentang a-
pa yang menjadi specialty resto tersebut, sa-
ya baru ngeh .. eh, ini dia Ayam Garam yang
katanya top banget.

Kami pun memesan Ayam Garam, Po Cai Telur A-
sin, Urat Babi masak XO (?), dan Teh Cina.
Setelah memesan, saya baru memandang sekeli-
ling. Tempatnya terkesan bersih, tapi sayang
kok rasanya agak gelap, jadi agak suram.

Kita baru mengobrol sebentar, keluarlah masa-
kan satu demi satu. Urat Babinya sungguh lem-
but, malah berasa seperti Hai Som, bumbunya
juga cukup meresap, dengan kuah manis pedas
plus tauco, sungguh menggugah selera .....
apa memang karena saya sedang lapar (:-)

Pak Bondan bertanya tentang XO (Cognag-red.)
yang dipakai untuk memasak urat babi terse-
but, dan sangat disayangkan pengetahuan si
manajer resto sangat minim tentang masakan
yang mereka sediakan.

Po Cai Telur Asin. Biasanya, sayur ini dihi-
asi telur pitan sebagai topping, lha kok yang
ini telur asin? Ternyata di resto ini mereka
mengkombinasikan keduanya. Kuahnya sangat di-
hiasi rasa dari kuning telur asin, rasanya
cukup kaya, jadi saya sarankan untuk tidak
menambah bumbu apapun, terlebih kecap asin.

Bawang putih, tauco, kuning telur asin, dan
telur pitannya benar-benar membangun satu ra-
sa yang sangat khas. Saya jadi teringat udang
telur asin di sebuah restoran di Juanda. Saya
dan Pak Bondan ternyata sama lahapnya, mungkin
karena kita sama-sama lapar, atau malah Pak
Bondan malah lebih lapar dari saya, cuma Beli-
au yang tahu (:-)

Ah, akhirnya Ayam Garamnya datang, dengan pe-
nampilan seperti Pa Cam Kee atau Ayam Jahe,
hanya saja tidak berminyak dan warnanya sedi-
kit lebih kuning, sebenarnya sama sekali tidak
terlalu istimewa kelihatannya. Tetapi kata-ka-
ta 'Don't judge a book from it's cover' memang
benar - paling tidak untuk yang satu ini.

Wuaah, memang benar-benar enak! Rasanya memang
sederhana, tapi entah mengapa terasa pas seka-
li di lidah dan sangat lembut. Rasa asin dan
wangi rempahnya (entah apa) sangat meresap di
dagingnya, saya sampai beberapa saat mendiam-
kan satu potong dalam mulut saya dan menghisap-
nya perlahan seperti kalau sedang makan permen.
Rasa yang keluar dari daging seperti tidak ada
habisnya, wow, memang review member Jalansutra
sangat bisa dipercaya, saya berkata dalam hati.

Segitunya, kami ternyata masih 'lapar' dan me-
mesan Bebek Panggang. BOOM!, kami cukup kaget
dengan penampilan Bebek Panggang yang cukup me-
mikat, kulitnya sangat renyah dengan lapisan
lemak yang cukup tebal di baliknya. Dagingnya
juga sangat lembut, bumbunya sangat meresap,
dan lemaknya ... hmm ... melting in your mouth!
Ternyata Bebek yang kami santap berasal dari
daratan Cina, tepatnya Peking, menurut manajer.
Termasuk Bebek Panggang yang terenak yang saya
pernah coba. Untung air liur saya tidak menetes
diatas makanan (:-)

Konon Bebek Panggang paling otentik dan paling
enak dapat kita temui di daerah Mangga Dua, de-
kat Hotel Dusit Mangga Dua, sampai sekarang sa-
ya belum berkesempatan untuk mencobanya. Lain
kali saya akan kesana untuk perbandingan dengan
resto ini.

Mimpi apa semalam, ternyata ada yang sedang ja-
di Santa Claus (untung bukan Piet Hitam!), saya
ditraktir oleh Boss kita. Wuaah, makan kenyang,
enak, ditraktir pula. Couldn't be better (:-)

Setelah kita jalan kembali, saya baru sadar ki-
ta sebenarnya cukup melenceng dari tujuan awal.
Yaah, paling tidak ada urat babinya laah. (:-)

Add a Comment
How would you rate this restaurant? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help